Monday, October 24, 2011

Will you marry me, babe?

http://cms.do-cms.com/UserFiles/Image/WINNERS%202008/01.jpg

Selamat pagi/siang/sore, salam sejahtera untuk kita semua. Dalam tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang isu yang mungkin agak sensitif untuk sebagian orang, yaitu pernikahan. Sebelumnya, saya akan bercerita sedikit tentang salah seorang teman saya. Siang tadi (19/11) saat saya sedang istirahat, saya bertemu dengan teman saya yang baru menjadi seorang sarjana ilmu politik, anggaplah namanya Joni, lalu kami mengobrol sebentar. Disela-sela obrolan itu, Joni merasa lapar, dan mengajak saya untuk makan siang di kantin dekat perpustakaan, lalu kami makan disana. Disela makan kami, Joni tiba-tiba ingin bercerita tentang kecemasannya menghadapi masa depan. Hal itu menarik perhatian saya, yaitu tentang hal yang dia cemaskan, mengenai pernikahan. Dia bercerita tentang ketakutannya dalam menghadapi pernikahan. Dia merasa bahwa untuk saat ini, menikah itu merupakan sesuatu yang sulit dan cukup mencemaskan. Dia memberikan alasan bahwa keadaan saat ini, yang posisi wanita dan pria sudah mulai setara, membuat wanita memungkinkan untuk mengejar karir seperti laki-laki, padahal dalam pandangan masyarakat umum, seharusnya laki-laki yang mengejar karir untuk kemaslahatan keluarga. Dia memberikan contoh, ketika seorang wanita berkeluarga, dan pria berkeluarga melamar ke pekerjaan yang sama, lalu ternyata yang diterima adalah si wanita berkeluarga, maka akan ada keluarga yang berhasil dan akan ada keluarga yang katakanlah tidak berhasil. Selain itu, dia juga cemas dengan kondisi lingkungan kerja si wanita yang sangat berpeluang untuk terjadi perselingkuhan, sehingga membuat dia takut untuk melakukan pernikahan.
                Setelah bercerita panjang lebar, akan tidak baik jika  saya berkomentar, “semua kembali ke diri masing-masing”. Kalau begitu buat apa cerita panjang lebar, jika jawabannya seperti itu. Maka, saya memberikan sedikit cerita tentang pernikahan, sebelum berujung pada jawaban itu. (lalu, apa bedanya? haha). Setelah mendengar cerita teman saya tersebut, ada beberapa komentar saya. Pertama saya menekankan pada situasi kesetaraan dalam pekerjaan antara pria dan wanita. Saya mengatakan bahwa sepanjang yang saya tahu, mungkin pada awalnya si wanita berkeinginan untuk mengejar karir di kantornya, sehingga memungkinkan untuk menunda pernikahan. Tetapi saya melihat dalam budaya masyarakat Indonesia, pernikahan merupakan ruang setengah publik, dimana orang-orang merasa perlu tahu tentang status pernikahan orang lain. Saya berasumsi bahwa, ketika masyarakat sudah mulai bertanya “kapan nikah?” atau “sudah punya pasangan?” atau “mau nikah umur berapa?” sedikit banyak akan mempengaruhi pemikiran si wanita. Si wanita akan berpikiran bahwa, pertanyaan tersebut tidak akan habis sampai dia menunjukan kepada dunia bahwa dia sudah berkeluarga, sehingga dalam kondisi tersebut, sebagian wanita akan menunda karirnya, dan memilih untuk menikah. Sehingga dalam hal ini, saya berkata pada Joni bahwa dia tidak perlu takut menikah, karena salah satu budaya masyarakat Indonesia akan menekan seseorang untuk segera melakukan pernikahan.
                Lalu saya juga tertarik untuk memberikan pendapat saya tentang pemikiran dia yang kedua, mengenai perselingkuhan.  Saya menganggap bahwa memang dalam situasi zaman sekarang, kemungkinan untuk terjadi perselingkuhan cukup terbuka. Paling kecil, perselingkuhan tersebut akan berada pada alat komunikasi, seperti telepon genggam. Untuk masalah ini, saya mencoba meyakinkan Joni, bahwa ketika seorang wanita telah setuju untuk naik ke jenjang lanjut tersebut, maka konsekuensinya adalah dia harus, dan mau tidak mau, menerima keadaan pasangannya apa adanya, begitu pula dengan kita, harus, dan mau tidak mau, menerima keadaan pasangan kita apa adanya. Nah, dalam kondisi menikah ini, telah terdapat ikatan secara fisik maupun batin antara si wanita dan si pria.  Ikatan batin ini yang memperkecil peluang untuk berselingkuh karena si pria dan si wanita telah secara seksama, sadar, dan waras, telah mengetahui dan menerima kondisi pasangan apapun keadaan dan resikonya. Kecuali terdapat hal yang luar biasa seperti, hubungan jarak jauh, atau lingkungan kerja yang tidak suportif, perselingkuhan ini kemungkinan kecil akan terjadi.
                Setelah saya bercerita tentang pendapat saya, datanglah seorang teman saya yang sehari sebelumnya, tempat curahan hati Joni, sebut saja Ujang. Ketika Ujang datang, saya menambahkan pendapat saya mengenai topik ini, yaitu sesuatu yang melatar belakangi pernikahan. Saya kembali bercerita, bahwa banyak sekali motif-motif orang untuk menikah. Saya kembali bercerita kepada Joni bahwa setiap orang akan memiliki pandangan masing-masing sebagai basis untuk melakukan pernikahan. Saya melihat bahwa keadaan dimana orang tidak mau melakukan pernikahan, adalah karena sebatas alasan fisik semata, yaitu menikah itu hanya sebatas hubungan suami istri, memiliki keturunan, dan kestabilan keadaan financial. Saya menganggap bahwa pernikahan itu jauh lebih dalam daripada hal-hal fisik semacam itu. Saya lebih melihat pada filosofi seseorang dalam melakukan pernikahan. Sebagai contoh, saya seorang muslim, menganggap bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, dimana ketika menikah, pintu rezeki akan semakin dibuka lebih lebar. Teman saya, Ujang, yang berasal dari Bali, melihat bahwa ketika seseorang tidak menikah, maka dia telah menghilangkan kesempatan untuk meningkatkan derajat leluhur karena dalam kepercayaan Ujang, leluhur itu berada di seluluh pohon keturunan. Sehingga ketika salah satu keturunan berhenti, maka peningkatan derajat sang leluhur pun akan berhenti. Nah, hal ini yang saya dan Ujang tekankan kepada Joni, tentang bagaimana dia melihat pernikahan tersebut. Jika dia melihat pernikahan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan fisik, ya tidak perlu menikah. Kasarnya, untuk memenuhi kebutuhan seksual, tinggal datang ke tempat pelacuran, ketika butuh keturunan, tinggal mengangkat anak dari panti asuhan, dan bekerja lebih keras untuk mendapatkan kestabilan finansial.
                Setelah bertukar pikiran mengenai pernikahan tersebut, saya rasa si Joni akan semakin bimbang mengenai pernikahan. Tetapi saya yakin, bahwa hasil obrolan ringan tapi bermakna ini, akan cukup membantu dia dalam mempertimbangkan keputusan untuk melakukan pernikahan, dan pada akhirya dapat memilih pilihan yang terbaik untuk hidupnya kelak.
Setelah membaca sedikit cerita di atas, selanjutnya tetap beranikah anda untuk mengatakan, will you marry me, babe?
Peringatan: cerita ini hanya sebatas opini penulis, jika terdapat kesamaan nama, karakter, atau cerita, ya namanya juga hidup, pasti ada orang yang jalan ceritanya serupa. Anggap saja sebagai cerita semata. Peace! (^.^)v

No comments:

Post a Comment