Sunday, October 9, 2011

Kejujuran: Sebuah ‘Komoditas’ Potensial yang langka di Indonesia

http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/kejujuran.jpg
         Seorang teman, yang bekerja pada sebuah toko X di bogor, sering mengeluhkan bahwa dia sering ditegur oleh majikannya kalau uang setoran dari toko Z, rekanan majikannya, sering kurang. Tentu saja, posisi dia sebagai pekerja kasar di toko itu, kurang mendapatkan posisi yang kuat untuk berargumen dengan majikannya. Pada akhirnya dia sudah sangat kesal dengan perilaku toko Z  tersebut dan membawa mesin penghitung uang untuk memastikan bahwa teman saya tidak melakukan korupsi di setiap pengambilan setoran tersebut. Selanjutnya bisa ditebak, dari setiap gepok uang senilai 1 juta rupiah, selalu kurang 35 ribu rupiah. Padahal setiap kali setoran, jumlahnya bisa mencapai 20-30 juta, berarti terdapat keuntungan 700 ribu sampai 1 juta per transaksi. Jumlah tersebut, merupakan keuntungan yang cukup besar, apalagi untuk ukuran toko.
Berdasarkan cerita singkat tersebut, terlihat bahwa perilaku yang berkaitan dengan kejujuran, dapat melibatkan proses perbandingan untung-rugi dalam tindakannya. Dalam cerita tersebut, keuntungan yang besar dapat didapatkan toko Z ketika berlaku curang, daripada jujur. Namun saya meragukan keuntungan tersebut dapat berlangsung selamanya. Sekarang setelah pemilik toko utama menemukan bahwa toko rekanannya yang ternyata berlaku tidak jujur, yang merugikan tokonya setelah bekerja sama, tentu saja akan memikirkan ulang kerjasama tersebut. Anggap saja toko-toko tersebut sudah bekerja sama dalam waktu yang lama, sudah berapa banyak uang yang digelapkan. Dan parahnya, para pekerja yang jujur tersebut, selalu mendapatkan amaran dari majikannya, padahal tidak mengambil uang sepeserpun.
Selanjutnya masuk ke kata komoditas jujur. Penulis memakai kata komoditas, karena pada dasarnya seluruh kegiatan manusia tersebut sudah berdasarkan penghitungan rasionalisasi untung-rugi. Menurut KBBI, komoditas adalah sebuah benda niaga utama. Hubungan dengan kejujuran disini adalah, telah hilangnya kejujuran sebagai ‘komoditas’ atau ‘benda niaga utama’ dari masyarakat Indonesia saat ini. Sepenggal cerita diatas sudah cukup menunjukan bahwa kejujuran sudah tidak menjadi bahan utama rasionaliasi tindakan. Dalam hal ini, keuntungan sesaat yang besar, telah menutup mata masyarakat bahwa masih terdapat keuntungan-keuntungan lain yang jauh lebih besar daripada sekedar keuntungan sesaat. Jika dipikirkan lebih lanjut, maka kejujuran yang akan jauh lebih menguntungkan. Penulis mengambil contoh yang masih seputar cerita diatas, yaitu pada perdagangan. Katakanlah, toko tersebut setiap transaksi selalu berbuat jujur, tentu saja kepercayaan dalam kerjasama tersebut akan tinggi dan boleh jadi kerjasaman tersebut akan diperluas jumlahnya, atau diperbesar nilainya. Hal tersebut merupakan keuntungan financial yang lebih menjanjikan, karena selain kerjasama yang lebih dipererat, juga dari sisi hubungan persaudaraan antara 2 pemilik toko tersebut yang semakin erat.
Salah satu contoh lain adalah, kemarin saya sedang membeli makanan di sebuat toko waralaba terkenal. Tidak sengaja saya mendengar pembicaraan 2 orang petugas kasir yang khawatir karena lupa memberikan bonus belanja kepada antrian setelah saya. Karena belum jauh, salah seorang kasir tersebut mengecar pembeli tersebut dan memberikan hadiahnya. Pada awalnya, saya mengira hadiah tersebut cukup berharga, tetapi setelah saya melihat hadiahnya, hanya 1 bungkus wafer dari nilai belanja tersebut. Hal ini yang cukup mengagetkan saya, karena begitu rela si kasir ini mengejar-ngejar pembeli tersebut hanya untuk memberikan sebuah wafer yang kalau dihargakan, hanya 500 rupiah. Padahal bisa saja hadiah tersebut tidak diberikan, karena  si pembeli memang sudah pergi dan dilihat dari nilainya pun tidak banyak. Tetapi jika dilihat lebih jauh, para kasir ini telah memiliki komoditas yang sangat penting dalam dunia perdagangan, yaitu kejujuran. Dari hal yang senilai 500 rupiah saja mereka sudah berbuat jujur, apalagi dalam urusan yang lebih besar. Peluang untuk bertindak jujur tentu saja jauh lebih besar
Dari kedua contoh kecil diatas, sesungguhnya kejujuran dapat menjadi asset yang berharga bagi diri maupun pekerjaan. Sekarang coba bayangkan, ketika seorang pegawai jujur dalam bekerja, tidak akan ada brigade 8-0-4 di kantor. Jika seorang kurir bekerja jujur, majikan akan semakin percaya dan pada akhirnya akan mengerjakan sesuatu yang lebih penting. Selain itu, yang paling utama menurut saya adalah rasa tenang di hati. Ketika berlaku jujur,  tidak akan adarasa bersalah karena kebohongan dalam setiap melakukan kegiatan. Rasa tenang ini yang cukup mempengaruhi produktivitas seseorang. Ketika melakukan kegiatan dengan rasa bersalah, tentu saja tidak akan maksimal karena tidak bisa fokus dalam berkegiatan tersebut. Dalam agama islam, kejujuran telah dicontohkan oleh panutan kita semua, Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai cerita, dikisahkan bahwa beliau merupakan seorang pedagang yang sangat jujur, sampai orang Quraisy pun memberikan julukan sebagai Al-Amin. Karena kejujurannya tersebut beliau dikenal di seluruh Mekkah, dan sampai ke telinga Siti Khadijah, yang akhirnya menjadi isteri tercintanya. Dalam hal berdakwah, beliau juga selalu menyampaikan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada pengikutnya, tidak ada yang disembunyikan untuk keuntungan pribadi. Salah satu pesan Rasulullah yang terkenal adalah “Katakanlah kejujuran, walaupun pahit rasanya”. Memang pada dasarnya jujur itu memang berat dan pahit. Namun dibalik semua itu, tentu terdapat makna yang lebih mendalam, seperti ketenangan hati, dipercaya oleh orang lain, dan bukan tidak mungkin pintu rezekinya akan dibuka di dunia maupun di akhirat nanti.
           Sekian tulisan dari saya. Mungkin banyak pembaca yang menganggap bahwa tulisan saya masih normatif, berantakan, berlebihan dan sebagainya. Ya, namanya juga proses belajar, jadi saya mengharapkan kritik, saran dan masukan dari para senior-senior yang telah lama berada di dunia blogging. Salam Kejujuran dari saya. :D

No comments:

Post a Comment