Monday, October 3, 2011

Perfeksionis: Teman Kuliah yang akan Sering Dihindari Ketika Tugas Kelompok


http://www.pollsb.com/photos/o/20632-perfectionists.jpg

                Selamat pagi/siang/sore para sesepuh blogger, dan para pembaca sekalian. Sebelumnya mohon maaf jika judulnya  cukup ekstrim, saya tidak bermaksud untuk menyerang siapapun. Saya hanya ingin berbagi pandangan saya mengenai topik ini. oke? :D
                Tulisan pertama saya akan bercerita tentang seorang perfeksionis, seperti nama utama pada blog saya. Langsung ke topik, Perfeksionis, secara harfiah berarti orang yang ingin segala-galanya sempurna, tidak ada kesalahan sedikitpun. Orang perfeksionis cenderung akan memberikan seluruh energinya terhadap sesuatu sampai merasa bahwa dalam kegiatannya sangat kecil kemungkinan untuk berbuat kesalahan. Setelah kuliah selama ini, saya melihat bahwa orang perfeksionis cenderung dihindari dalam tugas kelompok, dibandingkan dengan yang biasa saja. Lalu saya bertanya-tanya, bahwa apakah memang perfeksionis sebegitu “menyebalkan” sehingga perlu dihindari, atau yang menghindari yang merasa tidak aman dengan keberadaan si perfek ini. Sepanjang penulis amati, si perfeksionis seperti yang disebutkan diatas, akan selalu mengerjakan tugasnya dengan mendekati kesempurnaan dengan minimal peluang kesalahan. Tentu saja untuk mengerjakan tugas tersebut butuh energi dan waktu yang lebih lama, dibandingkan orang pada umumnya. Boleh jadi, hal ini yang dianggap “menyebalkan” oleh orang  lain. Jika untuk memenuhi tugas perorangan, tidak ada masalah karena hanya berurusan dengan diri sendiri. Tetapi jika sudah dalam tugas kelompok, maka akan terdapat banyak orang disana dengan sekian karakter orang dengan kepentingan yang berbeda. Biasanya, mereka yang menghindari si perfek ini akan menganggap bahwa tidak ada gunanya mengerjakan pembagian tugas dari si perfek ini karena pada akhirnya tidak akan terpakai karena si perfek menganggap bahwa hasilnya tidak memuaskan, atau menyuruh untuk mengulang pengerjaan tugas agar mencapain standar si perfek. Si perfek pun demikian, akan mencari orang sesama perfek, agar mendapatkan orang yang standarnya serupa.
                Contoh kecil tersebut cukup mewakili kehidupan sosial si perfek dalam dunia perkuliahan. Selanjutnya mari kita bahas dari perspektif si perfek dan penghindar si perfek. Dalam pandangan saya, si perfek akan menganggap “Apa salahnya mengerjakan tugas dengan mendekati kesempurnaan? “Toh kalau nanti hasilnya bagus juga untuk bersama. Makanya, kita semua harus mengerjakan dengan sebaik mungkin.” Saya memaklumi pendapat si perfek ini. Memang tidak ada salahnya ketika mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin. Toh hasilnya juga akan sesuai dengan pengerjaannya. Namun dalam prosesnya, apakah semua anggota kelompok sudah sepaham dengan topik tugas yang dibahas? Bukan tidak mungkin ada yang tidak paham, dan akhirnya mengerjakan tugas seadanya.  Nah, ini bagian yang paling tidak disukai oleh si perfek. Penulis mengira, bahwa pengerjaan tugas seadanya ini menunjukan bahwa tidak ada usaha yang cukup untuk membuat tugas ini menjadi baik. Terdapat 2 kemungkinan tindakan yang akan dilakukan oleh si perfek, pertama adalah mengganti secara sepihak bagian tugas  tersebut, atau menyuruh mengulangi tugas tersebut agar mencapai stantar.
                Di sisi lain, orang yang menghindari si perfek ini akan menganggap, “untuk apa mengerjakan sampai mendekati kesempurnaan? Padahal dengan energi yang lebih sedikit juga hasil yang didapat akan sama. Toh saya juga sudah berusaha untuk mengerjakan tugas ini. Nah, hal ini yang berseberangan dengan pandangan si perfek, yang akhirnya menimbulkan kedua kemungkinan tindakan diatas. Pengulangan dari proses tersebut, akan memberikan preseden tersendiri bagi si perfek di dunia perkuliahan. Orang yang sekelompok dengan si perfek ini akan berpikir bahwa si perfek akan selalu menganggap tugas mereka itu selalu tidak mencapai standar. Alih-alih meningkatkan kualitas tugas, orang yang menghindari si perfek ini malah akan membiarkan tugas tersebut tidak sesuai standar. Hal tersebut karena pengalaman menunjukan bahwa hasilnya akan sama saja, mengerjakan dengan serius maupun dengan seadannya, tetap akan diulang, atau diganti.
                Setelah melihat 2 perspektif tersebut, saya memiliki beberapa saran untuk si perfek maupun si penghindar, yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan perkuliahan, yaitu:
1.       Bagi si perfek maupun si penghindar, sama-sama mengurangi tuntutannya dalam bekerja sama. Si perfek harus memahami bahwa tidak setiap orang seperti dia, yang akan memberikan seluruh energinya untuk kesempurnaan. Dia harus mengerti bahwa pengecualian untuk kasus tertentu itu penting, untuk menjaga berlangsungnya komunikasi yang baik Begitupun si penghindar, dia harus memahami bahwa si perfek ini ingin melihat usaha keras untuk mendekati kesempurnaan. Oleh karena itu, memang akan sedikit melelahkan, tetapi coba untuk berusaha sedikit lebih agar  mendekati standar kualitas tugas yang baik.
2.       Coba komunikasikan dan buat aturan main bersama mengenai penugasan. Boleh jadi tugas yang dianggap si perfek tidak berkualitas ini bukan karena tidak berusaha, tetapi terdapat kesulitan yang perlu dikomunikasikan, seperti bahan tugas, topik utama, pembagian sub tugas, dan lain-lain. Hal ini perlu dilakukan agar setiap orang dalam kelompok memiliki frekuensi yang sama dan selanjutnya dapat menjadi tugas kelompok yang baik hasilnya.
3.       Sampaikan pandangan terbuka mengenai hasil tugas perseorangan. Maksudnya adalah, ketika dalam tugas tersebut terdapat kesalahan, si perfek harus menyampaikan dengan cukup halus sehingga tidak menyinggung si pembuat tugas, tidak perlu mengganti secara sepihak. Begitu juga si pembuat tugas, harus menerima jika dalam tugas tersebut terdapat kesalahan.
Sekian tulisan pertama saya. Mungkin agak tidak tertata dengan baik, atau masih normatif. Tidak lupa, saya menulis tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pendapat personal. Sehingga jika para sesepuh blogger maupun para pembaca memiliki pandangan yang berbeda, saya sangat menerima dan menghargai pandangan tersebut untuk perkembangan diri saya maupun tulisan saya.

No comments:

Post a Comment