Wednesday, October 19, 2011

Iiiih, dia beda dengan kita tuh!

http://scc.ukzn.ac.za/ImageGallery/168/Diversity_Hands.jpeg
                Selamat pagi/siang/sore untuk para pembaca blog saya (taela kayak ada yang nunggu aja.. :D) dalam tulisan ini, saya akan bercerita tentang otaku atau bahasa harfiahnya adalah penggemar berat. Saya memiliki seorang teman yang jarang kelihatan di kelas maupun di kampus. Sepanjang yang saya tahu, ketika masa awal kuliah, sebagian besar dari teman-teman justru akan sering berada di kampus, bercengkerama dengan teman-teman lainnya.   Tetapi tidak dengan dia, dia sejak awal kuliah memang sudah jarang terlihat, dan belakangan saya baru tahu kalau dia seorang penggemar berat anime (kartun jepang) dan sejenisnya. Sehingga, dia sempat mendapatkan julukan otaku. Lantas saya bertanya bahwa apakah dia benar-benar suka pada anime sampai-sampai rela meninggalkan kuliahnya. Karena kesibukan saya (yaelah, kayak yang sibuk aja.. :D), saya baru sempat mengobrol dengan dia pada saat pertengahan kuliah. Setelah mengobrol panjang lebar, saya merasa bahwa dia tidak seperti yang digambarkan sebagai otaku tersebut. Sepanjang obrolan, kami membicarakan apa saja, tidak melulu anime. Dan dalam obrolan itu juga saya tahu, bahwa dia tidak ke kampus bukan karena maniak anime tersebut, tetapi mengurusi usaha file hosting di internet. Lalu saya mengobrol lebih jauh, tentang apa yang dia jual, bagaimana transaksinya, keuntungan berapa, dan seterusnya. Sehingga terbukti bahwa dia bukan otaku seperti yang diduga oleh teman-teman saya. Memang dia suka anime, tetapi tidak sampai kepada asosial atau mengurung diri dirumah terus dan anime hanya sebaga barang dagangan utama dia dalam usaha file hosting tersebut.
                Dalam hemat saya, anggapan miring mengenai teman saya tersebut cukup mewakili pandangan masyarakat Indonesia tentang perbedaan. Tidak usah jauh-jauh, sesama bangsa Indonesia saja ketika melihat etnis yang berbeda, pasti langsung berpikir “itu orang dari mana ya?” atau “kok berbeda denganku?”. Hal tersebut juga yang terjadi pada teman saya itu. “kok dia jarang ke kampus ya?” atau “pasti ada yang tidak beres dengan dia” merupakan hal yang pertama muncul ketika bertemu teman saya. Penonjolan perbedaan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa selain menanam benih perpecahan. Sekarang, mari kita berpikir sebentar, apa sih untungnya berpikir tentang perbedaan? Apa untuk membedakan kalau dia lebih rendah/kecil dari kita? Atau untuk memberikan kategori sosial kalau dia gak level dengan kita, dia pantasnya ke level B/X dst. Andaikata dia otaku pun, apa dia mengganggu kita sebagai manusia yang dianggap “normal”? apakah dia lantas menyebarkan ide otakunya dan selanjutnya memaksa kita untuk menjadi otaku? Kalau jawaban dari seluruh pertanyaan itu iya, saya rasa kita perlu berpikir sejenak tentang diri kita. Kita perlu melakukan perjalanan ke dalam diri untuk menemukan, siapa sih sesungguhnya kita, dari mana kita berasal dan mau kemana kita nanti. Semoga dengan hasil pemikiran tersebut, kita dapat mendapatkan jawaban dan bisa lebih menghargai perbedaan dengan orang lain.
                Selanjutnya terdapat beberapa cara untuk mengurangi penonjolan perbedaan ini. Memang, saya kira cara ini lagi-lagi akan dianggap normatif oleh para pembaca, tetapi sekali lagi mari kita berpikir, apakah dengan cara yang normatif ini, pembedaan sudah semakin berkurang, tetap atau malah bertambah. Beberapa cara tersebut antara lain.
1.       Bertemu dengan orang lain sebanyak mungkin di beragam lingkungan. Dengan bertemu banyak orang lain, kita dapat belajar mengenai kehidupan sosial orang tersebut, karakter, dan siapa tahu terdapat pelajaran yang diambil dari kehidupan mereka. Tentu saja, hal tersebut memerlukan pengendalian diri yang cukup kuat untuk menahan jika terjadi hal yang tidak mengenakan dari perbedaan tersebut. Tetapi pahit dari perbedaan tersebut, lama-kelamaan akan terasa manis ketika kita sudah memahami kebiasaan mereka, dan mereka pun sudah menerima kita. Bukan tidak mungkin akan terbentuk nilai bersama dari komunikasi tersebut yang jauh lebih baik daripada nilai-nilai yang dipegang oleh masing-masing.
2.       Lebih membuka pikiran dan selalu berpikir positif. Dengan pikiran terbuka dan positif, seluruh perbedaan tersebut akan tidak terasa berbeda karena sejak awal kita sudah menganggap kalau hal itu baik, dan pikiran positif itu menenangkan ketika harus berurusan dengan kejadian tidak diduga. Selain itu, dengan pikiran terbuka, kita akan lebih mudah berbaur dan menysuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda

Dalam agama islam, Rasulullah telah memberikan contoh dalam penyebaran agama islam. Jika kita lihat dalam sejarahnya, apakah Rasulullah pernah menanyakan etnisitas seseorang untuk masuk islam? Apakah Rasulullah pernah menolak dengan alasan tertentu kepada seseorang yang ingin masuk islam? tidak pernah bukan? Oleh karena itu, untuk apa dalam bersosial kita perlu menanyakan dan menonjolkan perbedaan.
              Yak, sekian tulisan saya kali ini. Kembali saya mengulang bahwa saya benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung seseorang atau siapapun. Tulisan ini saya buat untuk refleksi diri saya sendiri sebagai makhluk sosial, dan siapa tahu para pembaca dapat mengambil ilmu yang sedikit ini dari tulisan saya. Oh ya, saya juga menunggu kritik, saran dan masukan dari para sesepuh blogger maupun para pembaca. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment