Monday, October 24, 2011

Will you marry me, babe?

http://cms.do-cms.com/UserFiles/Image/WINNERS%202008/01.jpg

Selamat pagi/siang/sore, salam sejahtera untuk kita semua. Dalam tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang isu yang mungkin agak sensitif untuk sebagian orang, yaitu pernikahan. Sebelumnya, saya akan bercerita sedikit tentang salah seorang teman saya. Siang tadi (19/11) saat saya sedang istirahat, saya bertemu dengan teman saya yang baru menjadi seorang sarjana ilmu politik, anggaplah namanya Joni, lalu kami mengobrol sebentar. Disela-sela obrolan itu, Joni merasa lapar, dan mengajak saya untuk makan siang di kantin dekat perpustakaan, lalu kami makan disana. Disela makan kami, Joni tiba-tiba ingin bercerita tentang kecemasannya menghadapi masa depan. Hal itu menarik perhatian saya, yaitu tentang hal yang dia cemaskan, mengenai pernikahan. Dia bercerita tentang ketakutannya dalam menghadapi pernikahan. Dia merasa bahwa untuk saat ini, menikah itu merupakan sesuatu yang sulit dan cukup mencemaskan. Dia memberikan alasan bahwa keadaan saat ini, yang posisi wanita dan pria sudah mulai setara, membuat wanita memungkinkan untuk mengejar karir seperti laki-laki, padahal dalam pandangan masyarakat umum, seharusnya laki-laki yang mengejar karir untuk kemaslahatan keluarga. Dia memberikan contoh, ketika seorang wanita berkeluarga, dan pria berkeluarga melamar ke pekerjaan yang sama, lalu ternyata yang diterima adalah si wanita berkeluarga, maka akan ada keluarga yang berhasil dan akan ada keluarga yang katakanlah tidak berhasil. Selain itu, dia juga cemas dengan kondisi lingkungan kerja si wanita yang sangat berpeluang untuk terjadi perselingkuhan, sehingga membuat dia takut untuk melakukan pernikahan.
                Setelah bercerita panjang lebar, akan tidak baik jika  saya berkomentar, “semua kembali ke diri masing-masing”. Kalau begitu buat apa cerita panjang lebar, jika jawabannya seperti itu. Maka, saya memberikan sedikit cerita tentang pernikahan, sebelum berujung pada jawaban itu. (lalu, apa bedanya? haha). Setelah mendengar cerita teman saya tersebut, ada beberapa komentar saya. Pertama saya menekankan pada situasi kesetaraan dalam pekerjaan antara pria dan wanita. Saya mengatakan bahwa sepanjang yang saya tahu, mungkin pada awalnya si wanita berkeinginan untuk mengejar karir di kantornya, sehingga memungkinkan untuk menunda pernikahan. Tetapi saya melihat dalam budaya masyarakat Indonesia, pernikahan merupakan ruang setengah publik, dimana orang-orang merasa perlu tahu tentang status pernikahan orang lain. Saya berasumsi bahwa, ketika masyarakat sudah mulai bertanya “kapan nikah?” atau “sudah punya pasangan?” atau “mau nikah umur berapa?” sedikit banyak akan mempengaruhi pemikiran si wanita. Si wanita akan berpikiran bahwa, pertanyaan tersebut tidak akan habis sampai dia menunjukan kepada dunia bahwa dia sudah berkeluarga, sehingga dalam kondisi tersebut, sebagian wanita akan menunda karirnya, dan memilih untuk menikah. Sehingga dalam hal ini, saya berkata pada Joni bahwa dia tidak perlu takut menikah, karena salah satu budaya masyarakat Indonesia akan menekan seseorang untuk segera melakukan pernikahan.
                Lalu saya juga tertarik untuk memberikan pendapat saya tentang pemikiran dia yang kedua, mengenai perselingkuhan.  Saya menganggap bahwa memang dalam situasi zaman sekarang, kemungkinan untuk terjadi perselingkuhan cukup terbuka. Paling kecil, perselingkuhan tersebut akan berada pada alat komunikasi, seperti telepon genggam. Untuk masalah ini, saya mencoba meyakinkan Joni, bahwa ketika seorang wanita telah setuju untuk naik ke jenjang lanjut tersebut, maka konsekuensinya adalah dia harus, dan mau tidak mau, menerima keadaan pasangannya apa adanya, begitu pula dengan kita, harus, dan mau tidak mau, menerima keadaan pasangan kita apa adanya. Nah, dalam kondisi menikah ini, telah terdapat ikatan secara fisik maupun batin antara si wanita dan si pria.  Ikatan batin ini yang memperkecil peluang untuk berselingkuh karena si pria dan si wanita telah secara seksama, sadar, dan waras, telah mengetahui dan menerima kondisi pasangan apapun keadaan dan resikonya. Kecuali terdapat hal yang luar biasa seperti, hubungan jarak jauh, atau lingkungan kerja yang tidak suportif, perselingkuhan ini kemungkinan kecil akan terjadi.
                Setelah saya bercerita tentang pendapat saya, datanglah seorang teman saya yang sehari sebelumnya, tempat curahan hati Joni, sebut saja Ujang. Ketika Ujang datang, saya menambahkan pendapat saya mengenai topik ini, yaitu sesuatu yang melatar belakangi pernikahan. Saya kembali bercerita, bahwa banyak sekali motif-motif orang untuk menikah. Saya kembali bercerita kepada Joni bahwa setiap orang akan memiliki pandangan masing-masing sebagai basis untuk melakukan pernikahan. Saya melihat bahwa keadaan dimana orang tidak mau melakukan pernikahan, adalah karena sebatas alasan fisik semata, yaitu menikah itu hanya sebatas hubungan suami istri, memiliki keturunan, dan kestabilan keadaan financial. Saya menganggap bahwa pernikahan itu jauh lebih dalam daripada hal-hal fisik semacam itu. Saya lebih melihat pada filosofi seseorang dalam melakukan pernikahan. Sebagai contoh, saya seorang muslim, menganggap bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, dimana ketika menikah, pintu rezeki akan semakin dibuka lebih lebar. Teman saya, Ujang, yang berasal dari Bali, melihat bahwa ketika seseorang tidak menikah, maka dia telah menghilangkan kesempatan untuk meningkatkan derajat leluhur karena dalam kepercayaan Ujang, leluhur itu berada di seluluh pohon keturunan. Sehingga ketika salah satu keturunan berhenti, maka peningkatan derajat sang leluhur pun akan berhenti. Nah, hal ini yang saya dan Ujang tekankan kepada Joni, tentang bagaimana dia melihat pernikahan tersebut. Jika dia melihat pernikahan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan fisik, ya tidak perlu menikah. Kasarnya, untuk memenuhi kebutuhan seksual, tinggal datang ke tempat pelacuran, ketika butuh keturunan, tinggal mengangkat anak dari panti asuhan, dan bekerja lebih keras untuk mendapatkan kestabilan finansial.
                Setelah bertukar pikiran mengenai pernikahan tersebut, saya rasa si Joni akan semakin bimbang mengenai pernikahan. Tetapi saya yakin, bahwa hasil obrolan ringan tapi bermakna ini, akan cukup membantu dia dalam mempertimbangkan keputusan untuk melakukan pernikahan, dan pada akhirya dapat memilih pilihan yang terbaik untuk hidupnya kelak.
Setelah membaca sedikit cerita di atas, selanjutnya tetap beranikah anda untuk mengatakan, will you marry me, babe?
Peringatan: cerita ini hanya sebatas opini penulis, jika terdapat kesamaan nama, karakter, atau cerita, ya namanya juga hidup, pasti ada orang yang jalan ceritanya serupa. Anggap saja sebagai cerita semata. Peace! (^.^)v

Wednesday, October 19, 2011

Iiiih, dia beda dengan kita tuh!

http://scc.ukzn.ac.za/ImageGallery/168/Diversity_Hands.jpeg
                Selamat pagi/siang/sore untuk para pembaca blog saya (taela kayak ada yang nunggu aja.. :D) dalam tulisan ini, saya akan bercerita tentang otaku atau bahasa harfiahnya adalah penggemar berat. Saya memiliki seorang teman yang jarang kelihatan di kelas maupun di kampus. Sepanjang yang saya tahu, ketika masa awal kuliah, sebagian besar dari teman-teman justru akan sering berada di kampus, bercengkerama dengan teman-teman lainnya.   Tetapi tidak dengan dia, dia sejak awal kuliah memang sudah jarang terlihat, dan belakangan saya baru tahu kalau dia seorang penggemar berat anime (kartun jepang) dan sejenisnya. Sehingga, dia sempat mendapatkan julukan otaku. Lantas saya bertanya bahwa apakah dia benar-benar suka pada anime sampai-sampai rela meninggalkan kuliahnya. Karena kesibukan saya (yaelah, kayak yang sibuk aja.. :D), saya baru sempat mengobrol dengan dia pada saat pertengahan kuliah. Setelah mengobrol panjang lebar, saya merasa bahwa dia tidak seperti yang digambarkan sebagai otaku tersebut. Sepanjang obrolan, kami membicarakan apa saja, tidak melulu anime. Dan dalam obrolan itu juga saya tahu, bahwa dia tidak ke kampus bukan karena maniak anime tersebut, tetapi mengurusi usaha file hosting di internet. Lalu saya mengobrol lebih jauh, tentang apa yang dia jual, bagaimana transaksinya, keuntungan berapa, dan seterusnya. Sehingga terbukti bahwa dia bukan otaku seperti yang diduga oleh teman-teman saya. Memang dia suka anime, tetapi tidak sampai kepada asosial atau mengurung diri dirumah terus dan anime hanya sebaga barang dagangan utama dia dalam usaha file hosting tersebut.
                Dalam hemat saya, anggapan miring mengenai teman saya tersebut cukup mewakili pandangan masyarakat Indonesia tentang perbedaan. Tidak usah jauh-jauh, sesama bangsa Indonesia saja ketika melihat etnis yang berbeda, pasti langsung berpikir “itu orang dari mana ya?” atau “kok berbeda denganku?”. Hal tersebut juga yang terjadi pada teman saya itu. “kok dia jarang ke kampus ya?” atau “pasti ada yang tidak beres dengan dia” merupakan hal yang pertama muncul ketika bertemu teman saya. Penonjolan perbedaan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa selain menanam benih perpecahan. Sekarang, mari kita berpikir sebentar, apa sih untungnya berpikir tentang perbedaan? Apa untuk membedakan kalau dia lebih rendah/kecil dari kita? Atau untuk memberikan kategori sosial kalau dia gak level dengan kita, dia pantasnya ke level B/X dst. Andaikata dia otaku pun, apa dia mengganggu kita sebagai manusia yang dianggap “normal”? apakah dia lantas menyebarkan ide otakunya dan selanjutnya memaksa kita untuk menjadi otaku? Kalau jawaban dari seluruh pertanyaan itu iya, saya rasa kita perlu berpikir sejenak tentang diri kita. Kita perlu melakukan perjalanan ke dalam diri untuk menemukan, siapa sih sesungguhnya kita, dari mana kita berasal dan mau kemana kita nanti. Semoga dengan hasil pemikiran tersebut, kita dapat mendapatkan jawaban dan bisa lebih menghargai perbedaan dengan orang lain.
                Selanjutnya terdapat beberapa cara untuk mengurangi penonjolan perbedaan ini. Memang, saya kira cara ini lagi-lagi akan dianggap normatif oleh para pembaca, tetapi sekali lagi mari kita berpikir, apakah dengan cara yang normatif ini, pembedaan sudah semakin berkurang, tetap atau malah bertambah. Beberapa cara tersebut antara lain.
1.       Bertemu dengan orang lain sebanyak mungkin di beragam lingkungan. Dengan bertemu banyak orang lain, kita dapat belajar mengenai kehidupan sosial orang tersebut, karakter, dan siapa tahu terdapat pelajaran yang diambil dari kehidupan mereka. Tentu saja, hal tersebut memerlukan pengendalian diri yang cukup kuat untuk menahan jika terjadi hal yang tidak mengenakan dari perbedaan tersebut. Tetapi pahit dari perbedaan tersebut, lama-kelamaan akan terasa manis ketika kita sudah memahami kebiasaan mereka, dan mereka pun sudah menerima kita. Bukan tidak mungkin akan terbentuk nilai bersama dari komunikasi tersebut yang jauh lebih baik daripada nilai-nilai yang dipegang oleh masing-masing.
2.       Lebih membuka pikiran dan selalu berpikir positif. Dengan pikiran terbuka dan positif, seluruh perbedaan tersebut akan tidak terasa berbeda karena sejak awal kita sudah menganggap kalau hal itu baik, dan pikiran positif itu menenangkan ketika harus berurusan dengan kejadian tidak diduga. Selain itu, dengan pikiran terbuka, kita akan lebih mudah berbaur dan menysuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda

Dalam agama islam, Rasulullah telah memberikan contoh dalam penyebaran agama islam. Jika kita lihat dalam sejarahnya, apakah Rasulullah pernah menanyakan etnisitas seseorang untuk masuk islam? Apakah Rasulullah pernah menolak dengan alasan tertentu kepada seseorang yang ingin masuk islam? tidak pernah bukan? Oleh karena itu, untuk apa dalam bersosial kita perlu menanyakan dan menonjolkan perbedaan.
              Yak, sekian tulisan saya kali ini. Kembali saya mengulang bahwa saya benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung seseorang atau siapapun. Tulisan ini saya buat untuk refleksi diri saya sendiri sebagai makhluk sosial, dan siapa tahu para pembaca dapat mengambil ilmu yang sedikit ini dari tulisan saya. Oh ya, saya juga menunggu kritik, saran dan masukan dari para sesepuh blogger maupun para pembaca. Terima kasih.

Sunday, October 9, 2011

Kejujuran: Sebuah ‘Komoditas’ Potensial yang langka di Indonesia

http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/kejujuran.jpg
         Seorang teman, yang bekerja pada sebuah toko X di bogor, sering mengeluhkan bahwa dia sering ditegur oleh majikannya kalau uang setoran dari toko Z, rekanan majikannya, sering kurang. Tentu saja, posisi dia sebagai pekerja kasar di toko itu, kurang mendapatkan posisi yang kuat untuk berargumen dengan majikannya. Pada akhirnya dia sudah sangat kesal dengan perilaku toko Z  tersebut dan membawa mesin penghitung uang untuk memastikan bahwa teman saya tidak melakukan korupsi di setiap pengambilan setoran tersebut. Selanjutnya bisa ditebak, dari setiap gepok uang senilai 1 juta rupiah, selalu kurang 35 ribu rupiah. Padahal setiap kali setoran, jumlahnya bisa mencapai 20-30 juta, berarti terdapat keuntungan 700 ribu sampai 1 juta per transaksi. Jumlah tersebut, merupakan keuntungan yang cukup besar, apalagi untuk ukuran toko.
Berdasarkan cerita singkat tersebut, terlihat bahwa perilaku yang berkaitan dengan kejujuran, dapat melibatkan proses perbandingan untung-rugi dalam tindakannya. Dalam cerita tersebut, keuntungan yang besar dapat didapatkan toko Z ketika berlaku curang, daripada jujur. Namun saya meragukan keuntungan tersebut dapat berlangsung selamanya. Sekarang setelah pemilik toko utama menemukan bahwa toko rekanannya yang ternyata berlaku tidak jujur, yang merugikan tokonya setelah bekerja sama, tentu saja akan memikirkan ulang kerjasama tersebut. Anggap saja toko-toko tersebut sudah bekerja sama dalam waktu yang lama, sudah berapa banyak uang yang digelapkan. Dan parahnya, para pekerja yang jujur tersebut, selalu mendapatkan amaran dari majikannya, padahal tidak mengambil uang sepeserpun.
Selanjutnya masuk ke kata komoditas jujur. Penulis memakai kata komoditas, karena pada dasarnya seluruh kegiatan manusia tersebut sudah berdasarkan penghitungan rasionalisasi untung-rugi. Menurut KBBI, komoditas adalah sebuah benda niaga utama. Hubungan dengan kejujuran disini adalah, telah hilangnya kejujuran sebagai ‘komoditas’ atau ‘benda niaga utama’ dari masyarakat Indonesia saat ini. Sepenggal cerita diatas sudah cukup menunjukan bahwa kejujuran sudah tidak menjadi bahan utama rasionaliasi tindakan. Dalam hal ini, keuntungan sesaat yang besar, telah menutup mata masyarakat bahwa masih terdapat keuntungan-keuntungan lain yang jauh lebih besar daripada sekedar keuntungan sesaat. Jika dipikirkan lebih lanjut, maka kejujuran yang akan jauh lebih menguntungkan. Penulis mengambil contoh yang masih seputar cerita diatas, yaitu pada perdagangan. Katakanlah, toko tersebut setiap transaksi selalu berbuat jujur, tentu saja kepercayaan dalam kerjasama tersebut akan tinggi dan boleh jadi kerjasaman tersebut akan diperluas jumlahnya, atau diperbesar nilainya. Hal tersebut merupakan keuntungan financial yang lebih menjanjikan, karena selain kerjasama yang lebih dipererat, juga dari sisi hubungan persaudaraan antara 2 pemilik toko tersebut yang semakin erat.
Salah satu contoh lain adalah, kemarin saya sedang membeli makanan di sebuat toko waralaba terkenal. Tidak sengaja saya mendengar pembicaraan 2 orang petugas kasir yang khawatir karena lupa memberikan bonus belanja kepada antrian setelah saya. Karena belum jauh, salah seorang kasir tersebut mengecar pembeli tersebut dan memberikan hadiahnya. Pada awalnya, saya mengira hadiah tersebut cukup berharga, tetapi setelah saya melihat hadiahnya, hanya 1 bungkus wafer dari nilai belanja tersebut. Hal ini yang cukup mengagetkan saya, karena begitu rela si kasir ini mengejar-ngejar pembeli tersebut hanya untuk memberikan sebuah wafer yang kalau dihargakan, hanya 500 rupiah. Padahal bisa saja hadiah tersebut tidak diberikan, karena  si pembeli memang sudah pergi dan dilihat dari nilainya pun tidak banyak. Tetapi jika dilihat lebih jauh, para kasir ini telah memiliki komoditas yang sangat penting dalam dunia perdagangan, yaitu kejujuran. Dari hal yang senilai 500 rupiah saja mereka sudah berbuat jujur, apalagi dalam urusan yang lebih besar. Peluang untuk bertindak jujur tentu saja jauh lebih besar
Dari kedua contoh kecil diatas, sesungguhnya kejujuran dapat menjadi asset yang berharga bagi diri maupun pekerjaan. Sekarang coba bayangkan, ketika seorang pegawai jujur dalam bekerja, tidak akan ada brigade 8-0-4 di kantor. Jika seorang kurir bekerja jujur, majikan akan semakin percaya dan pada akhirnya akan mengerjakan sesuatu yang lebih penting. Selain itu, yang paling utama menurut saya adalah rasa tenang di hati. Ketika berlaku jujur,  tidak akan adarasa bersalah karena kebohongan dalam setiap melakukan kegiatan. Rasa tenang ini yang cukup mempengaruhi produktivitas seseorang. Ketika melakukan kegiatan dengan rasa bersalah, tentu saja tidak akan maksimal karena tidak bisa fokus dalam berkegiatan tersebut. Dalam agama islam, kejujuran telah dicontohkan oleh panutan kita semua, Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai cerita, dikisahkan bahwa beliau merupakan seorang pedagang yang sangat jujur, sampai orang Quraisy pun memberikan julukan sebagai Al-Amin. Karena kejujurannya tersebut beliau dikenal di seluruh Mekkah, dan sampai ke telinga Siti Khadijah, yang akhirnya menjadi isteri tercintanya. Dalam hal berdakwah, beliau juga selalu menyampaikan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada pengikutnya, tidak ada yang disembunyikan untuk keuntungan pribadi. Salah satu pesan Rasulullah yang terkenal adalah “Katakanlah kejujuran, walaupun pahit rasanya”. Memang pada dasarnya jujur itu memang berat dan pahit. Namun dibalik semua itu, tentu terdapat makna yang lebih mendalam, seperti ketenangan hati, dipercaya oleh orang lain, dan bukan tidak mungkin pintu rezekinya akan dibuka di dunia maupun di akhirat nanti.
           Sekian tulisan dari saya. Mungkin banyak pembaca yang menganggap bahwa tulisan saya masih normatif, berantakan, berlebihan dan sebagainya. Ya, namanya juga proses belajar, jadi saya mengharapkan kritik, saran dan masukan dari para senior-senior yang telah lama berada di dunia blogging. Salam Kejujuran dari saya. :D

Monday, October 3, 2011

Perfeksionis: Teman Kuliah yang akan Sering Dihindari Ketika Tugas Kelompok


http://www.pollsb.com/photos/o/20632-perfectionists.jpg

                Selamat pagi/siang/sore para sesepuh blogger, dan para pembaca sekalian. Sebelumnya mohon maaf jika judulnya  cukup ekstrim, saya tidak bermaksud untuk menyerang siapapun. Saya hanya ingin berbagi pandangan saya mengenai topik ini. oke? :D
                Tulisan pertama saya akan bercerita tentang seorang perfeksionis, seperti nama utama pada blog saya. Langsung ke topik, Perfeksionis, secara harfiah berarti orang yang ingin segala-galanya sempurna, tidak ada kesalahan sedikitpun. Orang perfeksionis cenderung akan memberikan seluruh energinya terhadap sesuatu sampai merasa bahwa dalam kegiatannya sangat kecil kemungkinan untuk berbuat kesalahan. Setelah kuliah selama ini, saya melihat bahwa orang perfeksionis cenderung dihindari dalam tugas kelompok, dibandingkan dengan yang biasa saja. Lalu saya bertanya-tanya, bahwa apakah memang perfeksionis sebegitu “menyebalkan” sehingga perlu dihindari, atau yang menghindari yang merasa tidak aman dengan keberadaan si perfek ini. Sepanjang penulis amati, si perfeksionis seperti yang disebutkan diatas, akan selalu mengerjakan tugasnya dengan mendekati kesempurnaan dengan minimal peluang kesalahan. Tentu saja untuk mengerjakan tugas tersebut butuh energi dan waktu yang lebih lama, dibandingkan orang pada umumnya. Boleh jadi, hal ini yang dianggap “menyebalkan” oleh orang  lain. Jika untuk memenuhi tugas perorangan, tidak ada masalah karena hanya berurusan dengan diri sendiri. Tetapi jika sudah dalam tugas kelompok, maka akan terdapat banyak orang disana dengan sekian karakter orang dengan kepentingan yang berbeda. Biasanya, mereka yang menghindari si perfek ini akan menganggap bahwa tidak ada gunanya mengerjakan pembagian tugas dari si perfek ini karena pada akhirnya tidak akan terpakai karena si perfek menganggap bahwa hasilnya tidak memuaskan, atau menyuruh untuk mengulang pengerjaan tugas agar mencapain standar si perfek. Si perfek pun demikian, akan mencari orang sesama perfek, agar mendapatkan orang yang standarnya serupa.
                Contoh kecil tersebut cukup mewakili kehidupan sosial si perfek dalam dunia perkuliahan. Selanjutnya mari kita bahas dari perspektif si perfek dan penghindar si perfek. Dalam pandangan saya, si perfek akan menganggap “Apa salahnya mengerjakan tugas dengan mendekati kesempurnaan? “Toh kalau nanti hasilnya bagus juga untuk bersama. Makanya, kita semua harus mengerjakan dengan sebaik mungkin.” Saya memaklumi pendapat si perfek ini. Memang tidak ada salahnya ketika mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin. Toh hasilnya juga akan sesuai dengan pengerjaannya. Namun dalam prosesnya, apakah semua anggota kelompok sudah sepaham dengan topik tugas yang dibahas? Bukan tidak mungkin ada yang tidak paham, dan akhirnya mengerjakan tugas seadanya.  Nah, ini bagian yang paling tidak disukai oleh si perfek. Penulis mengira, bahwa pengerjaan tugas seadanya ini menunjukan bahwa tidak ada usaha yang cukup untuk membuat tugas ini menjadi baik. Terdapat 2 kemungkinan tindakan yang akan dilakukan oleh si perfek, pertama adalah mengganti secara sepihak bagian tugas  tersebut, atau menyuruh mengulangi tugas tersebut agar mencapai stantar.
                Di sisi lain, orang yang menghindari si perfek ini akan menganggap, “untuk apa mengerjakan sampai mendekati kesempurnaan? Padahal dengan energi yang lebih sedikit juga hasil yang didapat akan sama. Toh saya juga sudah berusaha untuk mengerjakan tugas ini. Nah, hal ini yang berseberangan dengan pandangan si perfek, yang akhirnya menimbulkan kedua kemungkinan tindakan diatas. Pengulangan dari proses tersebut, akan memberikan preseden tersendiri bagi si perfek di dunia perkuliahan. Orang yang sekelompok dengan si perfek ini akan berpikir bahwa si perfek akan selalu menganggap tugas mereka itu selalu tidak mencapai standar. Alih-alih meningkatkan kualitas tugas, orang yang menghindari si perfek ini malah akan membiarkan tugas tersebut tidak sesuai standar. Hal tersebut karena pengalaman menunjukan bahwa hasilnya akan sama saja, mengerjakan dengan serius maupun dengan seadannya, tetap akan diulang, atau diganti.
                Setelah melihat 2 perspektif tersebut, saya memiliki beberapa saran untuk si perfek maupun si penghindar, yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan perkuliahan, yaitu:
1.       Bagi si perfek maupun si penghindar, sama-sama mengurangi tuntutannya dalam bekerja sama. Si perfek harus memahami bahwa tidak setiap orang seperti dia, yang akan memberikan seluruh energinya untuk kesempurnaan. Dia harus mengerti bahwa pengecualian untuk kasus tertentu itu penting, untuk menjaga berlangsungnya komunikasi yang baik Begitupun si penghindar, dia harus memahami bahwa si perfek ini ingin melihat usaha keras untuk mendekati kesempurnaan. Oleh karena itu, memang akan sedikit melelahkan, tetapi coba untuk berusaha sedikit lebih agar  mendekati standar kualitas tugas yang baik.
2.       Coba komunikasikan dan buat aturan main bersama mengenai penugasan. Boleh jadi tugas yang dianggap si perfek tidak berkualitas ini bukan karena tidak berusaha, tetapi terdapat kesulitan yang perlu dikomunikasikan, seperti bahan tugas, topik utama, pembagian sub tugas, dan lain-lain. Hal ini perlu dilakukan agar setiap orang dalam kelompok memiliki frekuensi yang sama dan selanjutnya dapat menjadi tugas kelompok yang baik hasilnya.
3.       Sampaikan pandangan terbuka mengenai hasil tugas perseorangan. Maksudnya adalah, ketika dalam tugas tersebut terdapat kesalahan, si perfek harus menyampaikan dengan cukup halus sehingga tidak menyinggung si pembuat tugas, tidak perlu mengganti secara sepihak. Begitu juga si pembuat tugas, harus menerima jika dalam tugas tersebut terdapat kesalahan.
Sekian tulisan pertama saya. Mungkin agak tidak tertata dengan baik, atau masih normatif. Tidak lupa, saya menulis tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pendapat personal. Sehingga jika para sesepuh blogger maupun para pembaca memiliki pandangan yang berbeda, saya sangat menerima dan menghargai pandangan tersebut untuk perkembangan diri saya maupun tulisan saya.